MAKALAH
LANDASAN
HISTORIS PENDIDIKAN INDONESIA : PENDIDIKAN PADA ZAMAN PURBA HINGGA ZAMAN
PEMERINTAH KOLONEL BELANDA.
DOSEN
PEMBIMBING :
MUSTAKIM
JM.,M.Pd
DISUSUN
OLEH :
GUSTIN
RAHMANI YULITA
TENGKU
RENI WIDIA NINGSIH
PEDIDIKAN
BAHASA INGGRIS
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LANCANG KUNING
2018
KATA
PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur alhamdulilah
atas segala rahmat dan hidayah yang telah diberikan allah swt sehingga penulis
mampu menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Landasan Historis
Pendidikan Indonesia Pendidikan Pada Zaman Purba Hingga Zaman Pemerintah
Kolonel Belanda”
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah filosofi dan landasan pendidikan. Untuk itu penulis mengucapkan
terimakasih atas segala bantuan dan dukungan dari berbagai pihak dalam
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis mohon maaf dan dengan
senang hati menerima kritik dan saran sebagai bekal acuan untuk lebih baik
dikemudian hari.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat
memberi bekal pengetahuan dan manfaat bagi kita semua.
Pekanbaru, 15 Oktober 2018
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR…………………….….………….............…………………….i
DAFTAR
ISI…………………………...………...………………………..………….ii
BAB
I PENDAHULUAN ……..…………………………….......................................1
A. Latar
Belakang……………………………..………...……………1
B Rumusan
Masalah…………………………………………..……..2
C. Tujuan………………………………………..………..…..………2
BAB
II PEMBAHASAN…………………………….……………………..…..…..…3
B. Sejarah
Pendidikan Dari Masa Purba Ke Modern………...........…3
6. Zaman
Purba………………………………….……..…...….…3
7. Zaman
Kerajaan Hindu-Budha………………………..…..……5
8. Zaman
Kerajaan Islam………………………………..…..……8
9. Zaman
Pengaruh Portugis Dan Spanyol………………..….…...9
10. Zaman
Pemerintahan Kolonel Belanda………….....…...….…10
C. Pendidikan
Zaman Voc…………………………………...12
D. Pendidikan
Zaman Pemerintahan Kolonel
Belanda…......13
BAB
III PENUTUP……………………..…………………………………………...21
A. Kesimpulan……………..…………………………………….….21
B. Saran………………..…………………………………………....21
DAFTAR
PUSTAKA
ii
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sejarah
atau history adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau
kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan
informasi yang mengandung kejadian , model ,konsep, teori, praktik, moral,
cita-cita dan sebagainya. Sejarah adalah suatu peristiwa yang telah terjadi di
masa lampau, yang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Sejarah itu diisi
tergantung pada pembuat sejarah apakah diisi dengan tinta sejarah yang
bermanaat atau sebaliknya. Hingga sampai saat ini pun sebenarnya kita juga sedang
membuat sejarah tentang kehidupan kita untuk generasi penerus kita baik itu
untuk anak dan cucu kita dan semua orang yang terlihat dalam aktivitas
kehidupan kita . Secara tidak langsung kita ada pada saat ini merupakan sejarah
dari orang tua kita, orang tua kita ada dari orang tua kita sebelumnya dan
begitulah seterusnya.
Peristiwa
sejarah meliputi berbagai aktivitas manusia semua bidang manusia salah satunya
adalah landasan sejarah dalam bidang pendidikan yang merupakan pembahasan
makalah ini. Pendidikan merupakan hasil sejarah orang c orang sebelum kita yang
berjasa dalam bidang sejarah, oleh karena itu dengan adanya landasan sejarah pendidikan
di masa lalu bisa dijadikan gambaran untuk melakukan pendidikan dimasa sekarang.
Sehingga dalam pelaksaan pendidikan dapat mengarah pada tujuan sebenarnya pendidikan itu.indonesia sendiri telah
mengalami berbagai perubahan dan salah satunya di bidang pendidikan.
Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.
1
Untuk
memajukan pendidikan suatu &angsa maka kita perlu mempelajari
sejarah pendidikan itu sendiri, baik yang bersifat nasional maupun
internasional. Karena dengan mernpelajari sejarah pendidikan maka kita dapat
mengetahui apa yang sudah dikerjakan oleh pendahulu kita serta hasil yang diperoleh.
B. .RUMUSAN
MASALAH
Melihat
latar belakang di atas, penulis ingin mem4okuskan permasalahan penulisan makalah
ini ke dalam 2 kajian, yaitu :
Bagaimana sejarah pendidikan dari masa ke masa?
Bagaimana tujuan pendidikan dari dari masa ke masa?
C. TUJUAN
Dari penulisan makalah ini diharapkan kita semua selaku
calon pendidikan dapat mempelajari kelebihan dan kekurangan
sistem pendidikan yang ada sekarang di indonesia dengan mempelajari terlebih
dahulu sejarah pendidikan,
2
BAB
II
PEMBAHASAN
Sejarah
pendidikan dari masa purba ke masa modern
Kegiatan
belajar ini menyajikan sejarah pendidikan
indonesia pada zaman purba Hingga zaman pemerintahan kolonial belanda.
Kajian sejarah pendidikan ini meliputi Dua hal pokok, yaitu Latar belakang sosial
budayanya implikasinya terhadap Pendidikan.Dengan demikian, melalui
kegiatan belajar ini anda akan dapat
menjelaskan Kondisi pendidikan di indonesia pada zaman purba, zaman kerajaan
hindu/budha, zaman Kerajaan islam, zaman
pengaruh portugis dan spanyol, dan pada zaman pemerintahan Kolonial belanda
yang turut mewarnai perkembangan pendidikan di indonesia pada Zaman berikutnya
hingga dewasa ini.
1.
Zaman purba.
Latar
belakang sosial budaya. Setiap masyarakat pasti memiliki kebudayaan, Kebudayaan
yang berkembang dalam masyarakat nenek moyang bangsa indonesia pada Zaman purba
disebut kebudayaan paleolitik. Adapun
kebudayaan pada kurang lebih 1500 tahun sm yang lalu disebut kebudayaan
neolitik. Kebudayaan masyarakat pada
zaman purba tergolong kebudayaan maritim. Kepercayaan yang dianut masyarakat
antara lain animisme dan dinamisme. Masyarakat
Dipimpin
oleh oleh ketua adat. Namun demikian ketua adat dan para empu(pandai
besi) Dan dukun yang merupakan orang-orang pandai) tidak dipandang sebagai anggota Masyarakat lapisan
tinggi, kecuali ketika mereka melaksanakan peranannya dalam Upacara adat atau upacara ritual, dll.
Sebab itu, mereka tidak memiliki stratifikasi
sosial.
3
Yang tegas, tata
masyarakatnya bersifat egaliter. Adapun karakteristik lainnya yakni Bahwa
mereka hidup bergotong-royong.
Pendidikan. Tujuan pendidikan pada zaman ini adalah agar generasi muda
dapat Mencari nafkah, membela diri, hidup bermasyarakat, taat terhadap adapt dan terhadap Nilai-nilai religi (kepercayaan)
yang mereka yakini. Karena kebudayaan
masyarakatMasih bersahaja, pada zaman
ini belum ada lembaga pendidikan
formal (sekolah). Landasan historis pendidikan - Pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga dan
dalam kehidupan keseharian Masyarakat yang alamiah. Kurikulum pendidikannya meliputi pengetahuan,
sikap dan Nilai mengenai kepercayaan melalui upacara-upacara keagamaan dalam rangka Menyembah nenek
moyang, pendidikan keterampilan mencari
nafkah (khususnya bagi Anak laki-laki) dan pendidikan hidup bermasyarakat serta bergotong royong melalui Kehidupan riil
dalam masyarakatnya. Pendidiknya
terutama adalah para orangtua (ayah Dan ibu), dan secara tidak langsung adalah
para orang dewasa di dalam masyarakatnya. Sekalipun ada yang belajar kepada
empu, apakah kepada pandai besi atau kepada dukun Jumlahnya sangat terbatas,
utamanya adalah anak-anak mereka sendiri
4
2.
Zaman Kerajaan Hindu-Budha.
Latar
belakang sosial budaya. Nenek moyang
kita pada zaman ini umumnya Tinggal di daerah subur dekat pesisir pantai.
Mereka melakukan hubungan perdagangan Dengan orang-orang dari india yang
singgah dalam perjalanannya. Hubungan dagang Semakin lama semakin meningkat.
Seiring dengan itu ke dalam masyarakat
kita Masuklah kebudayaan yang dibawa
oleh orang-orang india. Antara lain
berupa bahasa, Tulisan, agama, termasuk juga sistem pemerintahan yang
berlaku di india. Masuknya pengaruh
kebudayaan tersebut di atas telah menimbulkan perubahan Keadaan sosial-budaya masyarakat setempat.
Para ketua adat di negeri kita zaman itu Lambat laun berusaha menyamai raja di
india. Diantara para ketua adat ada yang Dinobatkan atau menobatkan diri menjadi
raja-raja lokal. Struktur sosial yang pada Awalnya bersifat egaliter (tidak
mengenal stratifikasi sosial yang tegas) juga turut Berubah. Maka timbullah dua
golongan manusia, yaitu: golongan yang dijamin dan Golongan yang menjamin. Raja
dengan para pegawainya berstatus sebagai yang dijamin, Sedangkan rakyat jelata berstatus sebagai yang
menjamin. Sebagaimana di india, Terdapat stratifikasi sosial berdasarkan kasta,
yakni: kasta brahmana, ksatria, waisa,
Syudra, dan paria. Sekalipun stratifikasi sosial semacam itu tidak berlaku secara Menyeluruh dan tegas di
dalam masyarakat kita (misal: bagi penganut animisme, Dinamisme dan budha yang
juga telah ada saat itu), namun batas pemisah kelas sosial Antara yang
dijamin dan yang menjamin tampak jelas. Menurut para ahli, paling lambat
Pada
abad ke 5 masehi telah dimulailah zaman sejarah di negeri kita. Hal ini
ditandai landasan historis pendidikan
Dengan
ditemukannya tulisan tertua (tulisan huruf palawa bahasa sansekerta) oleh para
Ilmuwan sejarah di dekat bogor dan kutai.
5
Pendidikan. Pendidikan pada zaman ini, selain
diselenggarakan di dalam Keluarga dan didalam kehidupan keseharian masyarakat,
juga diselenggarakan di dalam Lembaga
pendidikan yang disebut perguruan
(paguron) atau pesantren. Hal ini Sebagaimana telah
berlangsung di kerajaan tarumanegara dan kutai. Pada awalnya yang Menjadi
pendidik (guru atau pandita) adalah kaum brahmana, kemudian lama kelamaan
Para
empu menjadi guru menggantikan kedudukan para
brahmana. Terdapat tingkatan Guru: pertama, guru (perguruan) keraton, di sini yang menjadi murid-muridnya
adalah Para anak raja dan bangsawan;
kedua adalah guru (perguruan) pertapa,
di sini yang Menjadi murid-muridnya berasal dari kalangan rakyat jelata. Namun
demikian para guru Pertapa juga biasanya selektif dalam menerima seseorang
untuk menjadi muridnya. Ini Antara lain merupakan implikasi dari feodalisme
yang berkembang saat itu. Pendidikan Bersifat aristokratis, artinya masih
terbatas hanya untuk minoritas yaitu anak-anak kasta Brahmana dan ksatria,
belum menjangkau masyarakat mayoritas, yaitu anak-anak kasta Waisya dan syudra,
apalagi bagi anak-anak dari kasta paria. Pada zaman ini pengelolaan
Pendidikan bersifat otonom, artinya para
pemimpin pemerintahan (para raja) tidak turut Campur mengenai pengelolaan
pendidikan, pengelolaan pendidikan bersifat otonom di Tangan para guru atau
pandita. Tujuan pendidikan pada umumnya
adalah agar para peserta dididik menjadi Penganut agama yang taat, mampu hidup
bermasyarakat sesuai tatanan masyarakat yang Berlaku saat itu, mampu membela
diri dan membela negara. Kurikulum
pendidikannyaMeliputi agama, bahasa sansekerta termasuk membaca dan menulis (huruf palawa), Kesusasteraan,
keterampilan memahat atau membuat candi, dan bela diri (ilmu Berperang). Sesuai
dengan jenis lembaga pendidikannya (perguruan), maka metode atau Cara-cara pendidikannya pun
adalah “sistem guru kula”. Dalam sistem ini murid tinggal Bersama guru di rumah
guru atau asrama, murid mengabdi dan sekaligus belajar kepada Guru.
6
Pada
zaman berkembangnya agama budha yang berpusat
di kerajaan sriwijaya (di palembang),
telah terdapat “perguruan tinggi budha”. Selain dari dalam negeri
Sendiri, murid-muridnya juga berasal dari tiongkok, jepang, dan indocina.
Darmapala landasan historis pendidikan Sangat terkenal sebagai maha guru budha.
Perguruan-perguruan budha menyebar ke
Seluruh wilayah kekuasaan sriwijaya. Mungkin sekali candi borobudur, mendut,
dan Kalasan merupakan pusat-pusat pendidikan agama budha. Perhatikan hasil
sastra yang Ditulis para empu (pujangga) yang bermutu tinggi. Contoh:
pararaton, negara kertagama,
Arjuna
wiwaha, dan baratayuda. Para pujangga yang terkenal antara lain empu kanwa,
Empu seddah, empu panuluh, dan empu prapanca (idit suhendi, dkk, 1991).
7
3.
Zaman kerajaan islam
Latar
belakang sosial budaya. Nusantara
memiliki letak yang strategis dalam Rangka pelayaran dan perdagangan. Ke negeri
kita berdatangan pula para saudagar
Beragama islam. Melalui mereka para raja dan masyarakat pesisir memeluk agama
islam. pada pertengahan abad ke-14, kota bandar malaka ramai dikunjungi para
saudagar dari Asia barat dan jawa (majapahit). Melalui para saudagar dari jawa
yang masuk memeluk Agama islam, maka tersebarlah islam ke pulau jawa. Dalam
penyebaran agama islam di Pulau jawa anda juga mungkin masih ingat akan
jasa para wali yang dikenal sebagai Wali
sanga. Akhirnya berdirilah kerajan-kerajaan islam. Pemerintahan pada zaman ini dipimpin oleh
raja. Di dalam wilayah kerajaankerajaan
islam umumnya masyarakat tidak menganut stratifikasi sosial berdasarkan kasta.
Sesuai ajaran islam, masyarakat tidak membedakan manusia berdasarkan keturunan
atau Kasta. Sekalipun zaman ini masih tetap terdapat kelompok raja dan para
bangsawan/para Pegawai di satu pihak, dan terdapat kelompok rakyat jelata di
pihak lain, namun Feodalisme di kalangan masyarakat pada umumnya mulai
ditinggalkan.Pendidikan. Tujuan
pendidikan pada zaman kerajaan islam diarahkan
agar Manusia bertaqwa kepada
allah s.w.t., sehingga mencapai keselamatan di dunia dan Akhirat melalui “iman,
ilmu dan amal”. Selain berlangsung di dalam keluarga, pendidikan Berlangsung di
lembaga-lembaga pendidikan lainnya, seperti: di langgar-langgar, mesjid, Dan
pesantren. Lembaga perguruan atau pesantren yang sudah ada sejak zaman
hindubudha dilanjutkan oleh para wali, ustadz, dan atau ulama islam.
KurikulumPendidikannya tidak tertulis (tidak ada kurikulum formal).
Pendidikan berisi tentang Tauhid (pendidikan keimanan terhadap allah s.w.t.),
al-qur’an, hadist, fikih, bahasa Arab termasuk membaca dan menulis huruf arab.
8
Landasan historis pendidikan. Pendidikan
adalah hak semua orang, bahkan semua orang wajib mencari ilmu, Mendidik
diri atau belajar. Pendidikan pada
zaman kerajaan islam bersifat
demokratis.Pada zaman ini pendidikan dikelola oleh para ulama, ustadz atau
guru. Raja tidak ikut Campur dalam pengelolaan pendidikan (pengelolaan
pendidikanbersifat otonom). Metode atau
cara-cara pendidikan. Pendidikan dilakukan dengan metode yang
Bervariasi, tergantung dengan sifat materi pendidikan, tujuan, dan peserta
didiknya.
Contoh
metode yang sering digunakan adalah: ceramah atau tabligh (wetonan) untuk Menyampaikan materi
ajar bagi orang banyak (belajar bersama) biasanya dilakukan di Mesjid; mengaji
al-qur’an dan sorogan (cara-cara belajar
individual). Dalam metode Sorogan
walaupun para santri bersama-sama dalam satu ruangan, tetapi mereka
belajar Dan diajar oleh ustadz secara individual. Cara-cara belajar dilakukan
pula melalui Nadoman atau lantunan lagu. Selain itu dilakukan pula melalui
media dan cerita-cerita Yang telah digunakan para pandita hindu-budha, hanya
saja isi ajarannya diganti dengan Ajaran yang islami. Demikian pula dalam
sistem pesantren atau pondok asrama. Di Langgar atau surau, selain melaksanakan
shalat, biasanya anak-anak belajar mengaji alqur’an dan materi pendidikan yang
sifatnya mendasar. Adapun materi
pendidikan yang Lebih luas dan mendalam dipelajari di pesantren.
4.
Zaman pengaruh portugis dan spanyol.
Latar
belakang sosial-budaya. Pada awal abad ke –16 ke negeri kita datanglah Bangsa
portugis, kemudian disusul oleh bangsa spanyol. Selain untuk berdagang
Kedatangan mereka juga disertai oleh
missionaris yang bertugas menyebarkan agama Katholik. Pada akhir abad
ke-16 mereka meninggalkan negeri ini karena sering mendapat Pemberontakan
terutama dari sultan ternate, karena perdagangan rempah-rempah sudah Tidak
menguntungkan lagi, dan karena kalah dalam peperangan melawan belanda.
Pendidikan.
9
Pengaruh
bangsa portugis dalam bidang pendidikan utamanya Berkenaan dengan penyebaran
agama katholik.
Demi
kepentingan tersebut, tahun 1536 Mereka mendirikan sekolah (seminarie)
di ternate, selain itu didirikan pula di solor. Kurikulum pendidikannya
berisi pendidikan agama katolik, ditambah pelajaran Membaca, menulis dan
berhitung. Pendidikan diberikan bagi anak-anak masyarakat Terkemuka. Pendidikan
yang lebih tinggi diselenggarakan di gowa, pusat kekuasaan landasan historis
pendidikan Portugis di asia. Pemuda-pemuda yang berbakat dikirim ke sana untuk
dididik. Pada ahun 1546, di ambon telah ada tujuh kampung yang penduduknya
memeluk agama Nasrani katolik.
5.
Zaman pemerintahan kolonial belanda.
Latar
belakang sosial budaya. Pada tahun 1596 bangsa belanda telah datang ke Negeri
kita. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk berdagang. Pada tahun 1602 mereka
Mendirikan voc. Karena voc merupakan badan perdagangan milik orang-orang
Belanda yang beragama protestan, maka selain berupaya menguasai daerah untuk ,
juga untuk menyebarkan agama protestan.
Kekuasaan voc akhirnya Diserahkan kepada pemerintah negeri belanda,
karena itu sejak tahun 1800-1942 negeri Kita menjadi jajahan pemerintah
kolonial belanda. Karaketristik kondisi
sosial budaya pada zaman ini antara
lain: (1) Berlangsungnya kolonialisme, (2) dalam bidang ekonomi berlangsung
monopoli Perdagangan hasil pertanian yang dibutuhkan dan laku di pasar dunia,
(3) terdapat Stratifikasi sosial berdasarkan ras atau suku bangsa dengan urutan
dari lapisan tertingi s.d. Terbawah sebagai berikut: bangsa belanda,
golongan orang timur asing, golongan
Priyayi/bangsawan pribumi, dan golongan rakyat jelata pribumi.
10
sejak
berkuasanya bangsa belanda, bangsa kita ditindas dan diadu domba, Kekuasaan
para raja dirampasnya, dan kekayaan alam
indonesia diangkutnya.
Sesungguhnya
bangsa indonesia terus berjuang melawan penjajahan ini, perlawanan dan
Pemberontakan dilakukan oleh berbagai kelompok bangsa kita di berbagai daerah
di Tanah air. Penjajahan yang telah berlangsung lama benar-benar telah
mengungkung Kemajuan bangsa indonesia, dan mengakibatkan kemelaratan serta
kebodohan. Seiring Perjuangan bangsa yang tak pernah padam, pada awal abad
ke-20 muncul tekanan serta Kecaman kaum
humanis dan kaum sosial demokrat di belanda atas kekeliruan politik Penjajahan
pemerintah kolonial belanda. Keadaan ini akhirnya memaksa pemerintah Kolonial belanda
untuk melaksanakan politik etis (1901).
Dengan
semakin sadarnya bangsa indonesia akan makna nasionalisme dan Kemerdekaan, pada
awal abad ke-20 (sejak kebangkitan nasional tahun 1908) lahirlah Berbagai
pergerakan. Pergerakan nasional berlangsung dalam jalur politik maupun landasan
historis pendidikan -Pendidikan. Coba anda urai kembali sejarah berbagai
perkumpulan atau organisasi Pergerakan nasional beserta usaha-usahanya yang
timbul sejak kebangkitan nasional Tahun 1908 sebagaimana telah anda pelajari di
smp dan sma. Pendidikan. Implikasi dari kondisi politik, ekonomi, dan
sosial-budaya di Indonesia pada zaman ini, secara umum dapat dibedakan
dua garis penyelenggaraan Pendidikan, yaitu: pertama, pendidikan yang
diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda; kedua, pendidikan yang diselenggarakan oleh rakyat
dan kaum pergerakan Kebangsaan (pergerakan nasional) sebagai sarana
perjuangan demi merebut kembali Kemerdekaan dan sebagai upaya rintisan ke arah
pendidikan nasional. Berikut ini mari Kita kaji kondisi pendidikan yang diselenggarakan
oleh pemerintah kolonial belanda. Adapun pendidikan yang diselenggarakan oleh rakyat dan kaum pergerakan -nasional yaitu:
11
A.
Pendidikan zaman voc
Pendidikan
di bawah kekuasaan kolonial belanda diawali dengan pelaksanaan Pendidikan yang
dilakukan oleh voc. Voc menyelenggarakan sekolah dengan tujuan Untuk misi
keagamaan (protestan), bukan untuk misi
intelektualitas, adapun tujuan Lainnya adalah untuk menghasilkan pegawai administrasi rendahan di
pemerintahan dan
Gereja.
Sekolah-sekolah utamanya didirikan di daerah-daerah yang penduduknya Memeluk
katholik yang telah disebarkan oleh bangsa
portugis. Sekolah pertama
Didirikan voc di ambon pada tahun 1607. Sampai dengan tahun 1627 di Ambon telah
Berdiri 16 sekolah, sedangkan di pulau-pulau lainnya sekitar 18 sekolah. Kurikulum pendidikannya berisi pelajaran agama
protestan, membaca dan Menulis. Kurikulum pendidikan belum bersifat formal
(belum tertulis), dan lama Pendidikannya pun tidak ditentukan dengan pasti. Murid-muridnya berasal dari anak-anak pegawai,
sedangkan anak-anak rakyat jelata tidak diberi kesempatan untuk sekolah. Pada
awalnya yang menjadi guru adalah orang
belanda, kemudian digantikan oleh Penduduk pribumi, yaitu mereka yang sebelumnya telah dididik di belanda.
selama kira-kira 200 tahun berkuasa di
negeri kita, pendidikan yang Dilaksanakan voc benar-benar sangat sedikit
sekali. Sampai tahun 1779 jumlah murid Pada sekolah voc adalah sbb: batavia 639
orang, pantai utara jawa 327 orang, makasar landasan historis pendidikan 50 orang, timor, 593 orang, sumatera barat 37
orang, cirebon 6 orang, banten 5 orang, Maluku 1057 orang, dan ambon 3966 orang
(i. Djumhur dan h. Danasuparta, 1976).
12
B. Pendidikan zaman pemerintahan kolonial
belanda.
Sebagai
kelanjutan dari zaman voc, pendidikan pada
zaman pemerintahan Kolonial belanda pun mengecewakan bangsa indonesia.
Kebijakan dan praktek Pendidikan pada
zama ini antara lain:
1) tahun 1808 gubernur jenderal daendels
memerintahkan agar para bupati di pulau Jawa menyebarkan pendidikan bagi
kalangan rakyat, tetapi kebijakan ini tidak Terwujud.
2)
tahun 1811-1816 ketika pemerintahan di bawah kekuasaan raffles pendidikan bagi
Rakyat juga diabaikan.
3)
tahun 1816 komisaris jenderal c.g.c. reindwardt
menghasilkan undang-undang Pengajaran yang dianggap sebagai dasar
pendirian sekolah, tetapi peraturan Pemerintah yang menyertainya yang
dikeluarkan tahun1818 tidak sedikit pun Menyangkut perluasan pendidikan bagi
rakyat indonesia, melainkan hanya berkenaan Dengan pendidikan bagi orang-orang
belanda dan golongan pribumi penganut Protestan.
4)
selanjutnya, di bawah gubernur jenderal van den
bosch dikeluarkan kebijakan Culturstelsel (tanam paksa) demi memperoleh
keuntungan sebanyak-banyaknya bagi Belanda. Karena untuk hal ini dibutuhkan
tenaga kerja murah atau pegawai rendahan Yang banyak, maka tahun 1848 gubernur
jenderal diberi kuasa untuk menggunakan
Dana
anggaran belanja negara sebesar f 25.000 tiap
tahunnya untuk mendirikan Sekolah-sekolah di pulau jawa dengan tujuan
mengahasilkan tenaga kerja murah atau Pegawai rendahan. Pada tahun 1849-1852
didirikan 20 sekolah (di tiap
keresidenan).
13
Namun
sekolah ini hanya diperuntukan bagi anak-anak pribumi golongan
Priyayi/bangsawan, sedangkan anak-anak rakyat jelata tidak diperkenankan.
Penyelenggaraan pendidikan bagi kalangan bumi putera yang dicanangkan sejak
1848 Mengalami hambatan karena kekurangan guru dan mengenai bahasa
pengantarnya.
Maka
pada tahun 1852 didirikanlah kweekschool
(sekolah guru) pertama di Surakarta, dan menyusul di kota-kota lainnya. Sekolah
ini pun hanyalah untuk anakanak golongan priyayi. Landasan historis pendidikan
5) pada tahun 1863 dan 1864 keluar kebijakan
bahwa penduduk pribumi pun boleh Diterima bekerja untuk pegawai rendahan dan
pegawai menengah di kantor- kantor
Dengan syarat dapat lulus ujian. Syarat-syarat ini ditetapkan oleh
putusan raja pada Tgl. 10 september 1864. Demi kepentingan itu di batavia
didirikanlah semacam Sekolah menengah yang disempurnakan menjadi hbs (hogere
burger school).
6) tahun 1867 didirikan departemen pengajaran
ibadat dan kerajinan.
7) tahun 1870 uu agraris dari de waal yang memberikan
kesempatan kepada pihak Partikelir untuk melaksanakan usaha di bidang pertanian
mengakibatkan Meningkatnya kebutuhan akan pegawai. Hal ini berimplikasi pada
perluasan sekolah.
8) tahun 1893 keluar kebijakan diferensiasi
sekolah untuk bumi putera, yaitu sekolah Kelas i untuk golongan priyayi,
sedangkan sekolah kelas ii untuk golongan rakyat Jelata.
9) setelah dilaksanakannya politik etis, pada
tahun 1907 gubernur jenderal van heutsz Mengeluarkan kebijakan tentang
pendidikan bumi putera: pertama, mendirikan Sekolah desa yang diselenggarakan
oleh desa, bukan oleh gubernemen. Biaya dsb. Menjadi tanggung jawab pemerintah
desa; kedua, memberi corak sifat ke-belanda-an Pada sekolah kelas i. Maka tahun
1914 sekolah kelas i diubah menjadi his
14
(holands
inlandse school) 6 tahun dengan bahasa
pengantar bahasa belanda. Sedangkan sekolah kelas ii tetap bernama demikan atau
disebut vervoleg school(sekolah
sambungan) dan merupakan lanjutan dari sekolah desa yang didirikan mulai Tahun
1907. Akibat dari hal ini, maka anak-anak pribumi mengalami perpecahan,
Golongan yang satu merasa lebih tinggi dari yang lainnya.
10)
pada tahun 1930-an usaha perluasan pendidikan bagi bumi putera mengalami
Hambatan. Surat menteri kolonial belanda colijn kepada gubernur jenderal de
jonge Pada 10 oktober 1930 menyatakan bahwa perluasan sekolah negeri
jajahanterutama Untuk kaum bumi putera akan sulit karena kekurangan dana. Dalam periode pemerintahan kolonial belanda,
betapa kecilnya usaha-usaha Pendidikan bagi kalangan bumi putera. Sampai
akhir tahun 1940 jumlah penduduk Bangsa
indonesia 68.632.000, sedangkan yang
bersekolah hanya 3,32%. Ciri-ciri
pendidikan.
Ciri-ciri
pendidikan zaman ini antara lain: pertama, Minimnya partisipasi pendidikan bagi
kalangan bumi putera, pendidikan umumnya
landasan historis pendidikan Hanya diperuntukan
bagi bangsa belanda dan anak-anak bumi putera dari golongan Priyayi;
kedua, pendidikan bertujuan untuk
menghasilkan tenaga kerja murah atau Pegawai rendahan. Tilaar (1995)
mengemukakan lima ciri pendidikan zaman kolonial Belanda, yaitu:
1)
adanya dualisme pendidikan, yaitu pendidikan untuk bangsa belanda
Yang
dibedakan dengan pendidikan untuk kalangan bumi putera;
2) sistem konkordansi,Yaitu pendidikan di
daerah jajahan diarahkan dan dipolakan menurut pendidikan di Belanda. Bagi bumi
putera hal ini di satu pihak memberi efek menguntungkan, sebab Penyelenggaran
pendidikan menjadi relatif sama, tetapi dipihak lain ada efek merugikan Dalam
hal pembentukan jiwa kaum bumi putera yang asing dengan budaya dan Bangsanya
sendiri;
15
3) sentralisasi pengelolaan pendidikan oleh
pemerintahan kolonial Belanda;
4) menghambat gerakan nasional; dan
5)
munculnya perguruan swasta yang Militan demi perjuangan nasional
(kemerdekaan).
Rangkuman:
Zaman
purba. Kebudayaan zaman ini dikenal sebagai paleolitik dan neolitik,
Masyarakat
tidak memiliki stratifikasi sosial yang
tegas (egaliter), adapun kepercayaan Yang dianut adalah animisme dan dinamisme.
Implikasinya, pendidikan bertujuan agar
Generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri, hidup bermasyarakat, dan taat
Terhadap adat dan nilai-nilai religi. Saat ini pendidikan berlangsung di dalam
keluarga Dan kehidupan masyarakat secara alamiah (belum berlangsung secara
formal). Zaman kerajaan hindu-budha. Kedatangan saudagar-saudagar dari india
telah Mengakibatkan perubahan sosial budaya penduduk pribumi.
Hal
ini ditandai dengan Munculnya berbagai kerajaan dan feodalisme, tersebarnya
agama hindu dan budha, Munculnya stratifikasi sosial berdasarkan kasta, dan
dimulainya zaman sejarah. Implikasinya, pendidikan pada zaman ini selain
diselenggarakan di dalam keluarga dan Masyarakat juga telah berlangsung di perguruan atau pesantren. Pendidikan
bertujuan Agar peserta didik menjadi penganut agama yang taat, mampu hidup
bermasyarakat, Membela diri, dan membela negara. Kurikulum pendidikannya meliputi agama,
bahasa Sansekerta termasuk membaca dan menulis (huruf palawa), kesusasteraan,
keterampilan Memahat atau membuat candi, dan bela diri (ilmu berperang).
16
Khususnya
zaman hindu Pendidikan bersifat aristokratis. Adapun metode pendidikannya
adalah sistem guru kula. Pada zaman kerajaan budha sudah berdiri “perguruan
tinggi budha” yang mana muridmuridnya berdatangan dari berbagai negara
tetangga. Pengelolaan pendidikan bersifat Otonom dimana pemerintah tidak ikut
campur dalam mengelola sistem pendidikan. Zaman kerajaan islam. Kedatangan para
saudagar beragama islam telah Mengakibatkan perubahan di dalam masyarakat
pribumi. Antara lain tersebarnya agama Islam dan kebudayaan yang bercorak
islami.
Pemerintahan
tetap berbentuk kerajaan, Namun bagi kalangan muslim stratifikasi social
sebagaimana berlaku pada zaman Sebelumnya mulai ditinggalkan. Implikasinya,
pendidikan bertujuan untukMengembangkan manusia yang bertakwa kepada allah
swt agar selamat dunia akhirat Melalui
pelaksanaan iman, ilmu dan amal. Selain di
dalam keluarga pendidikan Berlangsung juga di langgar-langgar, mesjid,
dan pesantren.
Pendidikan
bersifat Demokratis; seperti pada zaman-zaman sebelumnya pemerintah tidak ikut
campur dalam Pengelolaan pendidikan (otonom). Kurikulumnya meliputi tauhid
(pendidikan keimanan landasan historis pendidikan Terhadap allah s.w.t.), al-qur’an, hadist,
fikih, bahasa arab termasuk membaca dan Menulis huruf arab. Metode pendidikan
dilakukan melalui tabligh (wetonan) dan Sorogan (cara-cara belajar individual),
selain itu digunakan pula media dan ceriteraceritera yang digunakan pada zaman
hindu-budha hanya saja isinya diganti dengan Ajaran yang islami. Pesantren
sebagai lembaga pendidikan yang muncul zaman kerajan Hindu-budha
diselenggarakan pula pada zaman kerajaan islam dan bahkan sampai Dewasa ini.
Zaman portugis dan spanyol. Bangsa portugis dan spanyol datang ke indonesia
untuk Berdagang, tetapi selain itu mereka pun (para missionaris) bertujuan
menyebarkan agama Katholik. Implikasinya, pendidikan zaman ini utamanya
dimaksudkan demi penyebaran Agama katholik.
17
Tahun 1536 didirikan sekolah (seminarie)
di ternate, selain itu Didirikan pula di solor.Kurikulum pendidikannya
berisi pendidikan agama katolik, Ditambah pelajaran membaca, menulis dan
berhitung. Pendidikan diberikan bagi
anakanak masyarakat terkemuka. Zaman
pemerintahan kolonial belanda. Pada awalnya (1596)bangsa belanda Datang ke
indonesia untuk berdagang, mereka mendirikan voc (1602). Selain berusaha
Menguasai daerah untuk berdagang, juga untuk menyebarkan agama protestan. Sejak
Tahun 1800-1942 negeri kita menjadi jajahan pemerintah kolonial belanda.
Karaketristik
Kondisi sosial budaya pada zaman ini antara lain: (1) berlangsungnya
penjajahan, Kolonialisme; (2) dalam bidang ekonomi berlangsung monopoli perdagangan hasil Pertanian yang
dibutuhkan dan laku di pasar dunia; (3) terdapat
stratifikasi sosial Berdasarkan ras atau suku bangsa. Bangsa indonesia terus berjuang melawan
penjajahan belanda, perlawanan dan
Pemberontakan dilakukan oleh berbagai kelompok bangsa kita di berbagai daerah
di Tanah air. Penjajahan yang telah berlangsung lama benar-benar telah
mengungkung Kemajuan bangsa indonesia, dan mengakibatkan kemelaratan serta
kebodohan. Dengan Semakin sadarnya bangsa indonesia akan makna nasionalisme dan
kemerdekaan, pada Awal abad ke-20 (sejak kebangkitan nasional tahun 1908)
lahirlah berbagai pergerakan. Pergerakan nasional berlangsung dalam jalur
politik maupun pendidikan. Implikasi
dari kondisi di atas, pada zaman kolonial belanda secara umum dapat Dibedakan dua garis penyelenggaraan
pendidikan, yaitu: pendidikan yang landasan historis pendidikan Diselenggarakan oleh pemerintah kolonial
belanda, dan pendidikan yang
dilaksanakan Oleh kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan demi mencapai
kemerdekaan dan Sebagai rintisan pendidikan nasional.
18
Kolonisasi
Pemerintahan Colonial Belanda
19
Sejarah
Pendidikan Pada Masa Hindia Belanda
20
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari apa yang telah di uraikan di atas, bisa
di tarik suatu kesimpulan bahwa
Sejarah
pendidikan dari zaman purba hingga zaman kolonel belanda memiliki beberapa
tahap yang menyebabkan banyak perubahan dalam bidang pendidikan serta
pengetahuan.
SARAN
Semoga pada makalah ini dapat di ambil
pelajarannya dan bisa diterima dan di baca oleh pembaca dan penilai.penulis
menyarankan agar dapat membaca makalah ini dikarenakan penulis membuatnya
bertujuan untuk menambah pengetahuan kita.
Penulis
sadar akan kekurangan akan penulisan makalah ini maka dari itu tim
penulis mengharapkan kritikan dan saran untuk membuat makalah ini menjadi lebih
sempurna dan bermanfaat.
21
DAFTAR
PUSTAKA :
Daftar
Pustaka diambil dari jurnal atau seri publikasi lainnya :
-
Komunitas Paduraksa, “Sedikit Uraian Sejarah Pendidikan Indonesia”,
Mei
2008, (http://tinulad.wordpress.com/sedikit-uraian-sejarahpendidikan/)
-
Haris Zaky Mubarak, “Reflektivitas Pendidikan Kolonial di Masa Kini”,
Desember
2007,



Tidak ada komentar:
Posting Komentar